graphic design, internet society, web design.

Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

Dari All Rights Reserved Menuju Creative Commons

5:01 PM Posted by sarungtenun , No comments
HAK Cipta bisa menjadi alasan seseorang menghasilkan banyak karya hebat. Hasilkan karyamu, hak-hakmu yang dilindungi legislasi menjadi kekayaan yang bernilai sosial, bahkan untuk takaran ekonomis.

Banyak dari kita di masa kejayaan industri dan sains-teknologi ini bisa menghidupi keluarganya dari adanya hak cipta atas karya yang dilindungi. Kita mengenalnya dengan “All Rights Reserved”, frasa yang menjadi pokok dari undang-undang hak cipta, yang dicantumkan pada sebuah produk untuk formalitas atas aturan hukumnya. Yang menjelaskan bahwa pemilik hak-salin (copyright) melindungi dan menjaganya untuk kepentingannya sendiri.

Akan tetapi, tidak lama para pencari peluang melihatnya sebagai komoditi. Maka gairah untuk mendapatkan keuntungan besar dari perlindungan atas hak cipta dan produk-produk yang dihasilkannya menjadi tinjauan penting bagi para industrialis. Lalu muncullah banyak industri yang menghasilkan produk berupa barang-barang kebutuhan, yang dihasilkan dari karya yang dilindungi oleh hak cipta.

Ketika seseorang ingin mengkonsumsi suatu produk, entah itu produk fisik, maupun non-fisik seperti musik, perlu adanya transaksi ekonomi. Dia tidak berhak melipatgandakan, memodifikasi, atau mengambil sebagian untuk dipergunakan kembali. Dan kita bisa membaca kutipan undang-undang yang terkadang menempel pada sebuah produk yang dilindungi.

Sayangnya, tidak hanya kepada kebutuhan tersier atau sekunder saja sebuah produk itu ditutup hak akses untuk memperbanyaknya. Ketika penemuan-penemuan penting dan keterbukaan informasi bagi kemanusiaan dibatasi aksesnya dengan mengatasnamakan perlindungan hak cipta, apa yang semestinya menjadi solusi bagi dunia justru bisa menjadi komoditi bagi para kapitalis. Kesenangan bagi mereka, dan celaka bagi yang tidak mampu dan sangat membutuhkan.

Lawrence Lessig kemudian menyebut masa tersebut sebagai masa dimana informasi dan komoditi hanya bisa kita dapatkan dalam bentuk “read-only” (RO). Memang pada kenyataannya, kemampuan kita memodifikasi, memperbanyak, dan mendistribusikannya pun dibatasi ketat oleh undang-undang.

Tanpa mempertanyakan banyak hal tentang kebutuhan dasar publik yang terdapat pada sebuah karya, atau cenderung menautkan perlindungan hak cipta dengan hak dasar atas kekayaan intelektual, dunia pun meratifikasi aturan-aturan serupa, yang menguntungkan pemilik modal dan pemegang hak cipta.

Di kemudian hari kita belajar dari banyak tokoh seperti (alm.) Aaron Swartz, dan Lawrence Lessig, tentang betapa pentingnya keterbukaan informasi kepada publik. Dalam film dokumenter “Internet’s Own Boy”, kita bisa mengetahui tentang perjuangan Aaron dan kawan-kawan untuk keterbukaan informasi kepada publik, terbukanya pengetahuan berarti pemerataan wawasan bagi siapa saja dan tentu menghindari segala bentuk represi. Termasuk kesadaran untuk bebas dari pencarian keuntungan para kapitalis di balik frasa “All-Rights Reserved”.

Lalu hadirlah di hadapan para pengekang kebebasan ide, yang menyikapi represi dengan memodifikasi konsep atau bahkan melawannya. Kreatifitas adalah senjata untuk bertahan menghadapi keadaan represif.

Muncul banyak karya-karya musik dan video yang menggabungkan beberapa karya legal menjadi sebuah bentuk baru, kita menyebutnya ‘remix’. Muncul pula gerakan global perangkat lunak yang bisa digunakan secara bebas oleh dan untuk kebaikan siapa saja, kita bisa membaca kisah Richard Stallman yang meluncurkan GNU Project dan Free Software Foundation.

Atau Aaron Swartz, salah satu arsitek awal dari proyek Creative Commons dan seorang developer sebuah basis data pustaka yang bisa diakses publik secara bebas, Open Library. Aaron pada 2010 juga mendirikan sebuah online group, Demand Progress, yang berhasil dalam kampanye menentang dua undang-undang pemerintah Amerika Serikat tentang penyensoran Internet, SOPA dan PIPA. Tidak berhenti di situ, Aaron lantas mempelajari pengaruh para pemilik modal pada berbagai institusi.

Dalam Internet’s Own Boy, kita bisa tahu bagaimana jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola dan diakses secara eksklusif oleh kampus-kampus ternama, dan dengan biaya berlangganan yang tidak murah, terkait dengan bisnis kotor para kapitalis. Riset yang masuk di dalam jurnal tersebut disimpan di dalam sebuah server tersendiri dan untuk mengaksesnya kita mesti memiliki jalur khusus dan membayar biaya yang tidak sedikit. Selanjutnya karya tulis dari para sarjana yang dengan bangga memasukkan hasil penelitiannya ke dalam jurnal-jurnal tersebut pun kemudian tertutup secara eksklusif. Hasilnya dikembangkan oleh para kapitalis, untuk memproduksi sebagian besar kebutuhan-kebutuhan vital publik, kita bisa mengambil contoh pada bidang medis.

Bagaimana jika riset yang sedemikian penting itu lantas hanya menjadi jalan para kapitalis untuk menarik uang dari rakyat banyak yang sakit dan sangat membutuhkan obat-obatan yang sebenarnya tidak mahal?

Tidak lama setelah meninggalnya Aaron Swartz dalam tekanan psikologis pemerintah Amerika Serikat, seorang anak laki-laki dari Baltimore berusia 14 tahun, yang memiliki akses ke dalam server jurnal eksklusif JSTOR, mengirimkan email kepada ratusan pakar onkologi (oncologist; dokter ahli tumor), dia menjelaskan tentang besarnya jasa Aaron dalam risetnya menemukan penemuan besar di bidang onkologi. Dia menyampaikan bahwa risetnya tidak akan pernah ada jika bukan karena kemampuannya mengakses jurnal online tersebut.

Aaron mengkampanyekan apa yang sangat berarti bagi kita semua. Dan satu contoh hasil dari gagasan besar dan cita-citanya, Jack Andraka, anak lelaki 14 tahun itu menemukan cara yang murah dan hanya lima menit untuk bisa mendeteksi gejala kanker pankreas, rahim, dan juga kanker paru-paru. Dan menurutnya sejauh hasil medis yang ada, deteksi yang dihasilkan 100% akurat.

Baik Richard Stallman maupun Aaron Swartz adalah dua contoh besar dari banyak pejuang kebebasan hak akses informasi publik untuk kebaikan yang lebih luas. (*)

Sebelumnya telah dimuat di metrosemarang.com

Sunday, March 1, 2015

Tips Dasar Menggali Ide Desain Karakter

11:29 AM Posted by sarungtenun , No comments
Ini adalah sebuah pembahasan mengenai desain, bukan tentang karakter manusia hidup di tengah-tengah perannya sebagai agen sosial, tetapi ‘karakter’ lain. Yang berinteraksi dengan cara sedikit berbeda.



Kesenangan mencari inspirasi terkadang membuat kurang menemukan konsep yang sebenarnya kita cari. Misalkan, beberapa menit menyusuri Pinterest dengan kata kunci pencarian “character” dan “design” atau dengan “illustration” dan kita tadinya sedang berusaha mencari ide untuk sebuah desain ikon perusahaan yang mencitrakan “ketelitian”, “riset”, “teknologi”, yang secara simultan hampir tidak mungkin kita dapati hasilnya jika kita memasukkan ketiga kata itu dalam pencarian di Pinterest. Itu sebuah permisalan.

Keadaan di atas tidak memunculkan ide terangnya di meja gambar, malah menjadikan pikiran semakin kabur dari fokusnya.

Pencarian ide tentang desain karakter sebaiknya kita awali dengan pencarian konsep umum tentang kata-kata kunci, apa yang menjadi imajinasi umum tentang sesuatu yang sekiranya dikaitkan dengan kata-kata tersebut tidak mudah hilang, tetapi justru semakin kuat. Jika kita tidak mungkin menemukan ide kuat dengan pandangan pertama secara visual, kita bisa mencoba cara kedua, temukan karakter yang unik dan mudah memberi kesan di dalam benak penikmat. Menggemaskan, lucu, cantik, luar biasa, atau hal-hal ‘melebihi’ kebiasaan lainnya, untuk ditonjolkan.

Kemudian jangan sampai lepas konsep itu di dalam pikiran dan ujung jari, mulailah menuju meja gambar, bentuk pola dasar yang ‘eye-catching’, sesederhana mungkin. Eye-catching dari bentuk dasar ini penting untuk tahap selanjutnya, dan untuk membentuk ingatan akan citra dasar karakter yang ingin kita buat.

Saat dasar sudah tertuang, tinggal tambahkan rincian. Warna, bayangan, ketajaman sudut, gelap-terang, tekstur. Sejauh diperlukan, Anda akan mengetahui sendiri sampai batas mana desain itu terasa cukup, dengan membandingkannya terhadap ruang publik yang akan menjadi lahan interaksi karakter tersebut. Entah sederhana atau kompleks, Andalah yang bisa merasakannya. Di sini keterampilan merasakan secara visual diperlukan.

Ruang publik yang lebih terbuka menuntut visual yang lebih mudah diingat sepintas, sekelebat pandangan, dan kuat. Bisa dibedakan secara cepat dari obyek lain, dan kesan ide yang dibawanya masih melekat dalam kurun waktu sekelebatan pandangan.

Semoga bermanfaat.

Klaim Nama Akun Twitter yang Tidak Terpakai

1:01 AM Posted by sarungtenun , , No comments
Kadang kita perlu sebuah akun di twitter, tapi nama yang kita inginkan sudah dipakai oleh pemilik lain. Ini bisa jadi akan kadang memusingkan jika @namaanda di twitter sangat Anda perlukan untuk promosi, tapi sudah terpakai oleh akun lain. Saya hanya bisa menjelaskan tiga kondisi terkait hal tersebut:
  • Kalau sebuah akun aktif yang kita inginkan, kita juga menginginkan semua followernya. Cara mendapatkannya dengan baik dan benar adalah dengan mengirim DM (direct message) kepada akun terebut. Silakan Anda negosiasikan harga untuk membelinya. Jangan lupa passwordnya. Kalau soal email nanti bisa disesuaikan.
  • Jika sebuah akun aktif yang kita menginginkan namanya saja yang kita ambil, bisa dengan alasan karena perusahaan kita sama dengan nama tersebut (untuk mendukung promosi dsb.), tapi kita tidak menghendaki followernya. Kirim DM kepada akun tersebut, negosiasikan agar mereka mau mengganti namanya dan Anda segera ganti nama yang tadi dimiliki mereka/dia. (sambil berharap agar tidak ada orang lain yang duluan memakai nama tersebut sekejap sebelum Anda merubahnya, karena ini berarti ada negosiasi kedua. Dan kalau terlambat lagi, negosiasi lagi).
  • Yang paling menarik adalah, bagaimana kita mengambil alih sebuah akun twitter yang pemiliknya tidak pernah aktif bertwit lagi cukup lama, tapi kita memerlukan nama yang dia gunakan:
Silakan Anda coba isi form di: https://support.twitter.com/forms/impersonation
sebuah halaman yang disediakan oleh twitter untuk membantu Anda mendapatkan nama akun twitter yang Anda perlukan (yang digunakan oleh orang lain).
Tetapi hal tersebut memerlukan kondisi tertentu: Nama akun yang digunakan berpotensi disalahgunakan oleh pemiliknya dan hal itu bisa merusak citra nama dari pemilik nama (yang telah terkenal di masyarakat) aslinya.
Twitter memiliki kebijakan terhadap hal tersebut, karena berpotensi terjadinya "impersonation" atau pencemaran nama baik. Kebijakan twitter.com dalam hal tersebut secara ringkas bisa dilihat di (((sini))), dan bagaimana langkah melaporkan akun yang impersonasi ada di (((sini))).
We're currently unable to accommodate individual requests for inactive or suspended usernames. We may release all inactive and/or suspended usernames in the future, but have not yet set a date for doing so. -twitter
Kondisi lain menurut mas Franco Varriano di guides.co, dia bilang biasanya kita bisa klaim sebuah akun yang dalam lebih dari 6 bulan tidak aktif, sedangkan kita memiliki brand atau website terkait nama tersebut. Kita bisa mengajukan klaim ke twitter dengan mengisi form "impersonation" di atas.
Ada juga bagian khusus untuk melaporkan jika impersonation itu berhubungan dengan trademark atau merek dagang tertentu. Anda bisa mengunjungi tautan (((ini))).
.
Twitter memiliki kebijakan yang baik untuk mengatur situasi jejaring sosialnya, terutama terkait potensi impersonasi atau pencemaran nama baik.

Wednesday, February 25, 2015

Persingkat Isi Blogmu

11:32 PM Posted by sarungtenun No comments
Terlalu panjang tulisan di dalam satu postingan blog terkadang membuat kita terlalu lelah melihat, apalagi memikirkan untuk membacanya. Cara generasi google untuk menyerap informasi relatif ringkas dan tidak mau bertele-tele.